Global Warming vs Fotosintesis
Sengatan sinar matahari yang menerpa permukaan Bumi makin lama terasa bertambah panasnya. Apalagi jika kita berada di area yang tidak terdapat pepohonan, rasanya ingin berlari menjauhi teriknya sang surya. Tanaman, termasuk pohon-pohon hutan, mengubah karbon dioksida (CO2) atmosfer menjadi karbon melalui fotosintesis. Dedaunan menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses difusi gas dan CO2 ini dimanfaatkan tumbuhan dalam proses fotosintesis pada saat siklus calvin. Di dalam daun (di organela kloroplas), karbohidrat, asam-asam amino, protein, dan adenosin trifosfat diproduksi melalui fotosintesis. Fotosintesis bergantung pada cahaya, ketersediaan CO2, serta suhu. Laju fotosintesis berbanding lurus dengan konsentrasi CO2 di udara dan jumlah kloroplas, serta berbanding terbalik dengan tahanan daun terhadap difusi CO2.
Iklim memengaruhi laju fotosintesis melalui konsentrasi CO2 ambien, radiasi matahari, lengas, suhu, dan ketersediaan unsur hara. Pohon-pohon berdaun lebar umumnya memiliki laju fotosintesis yang lebih besar daripada pohon berdaun jarum karena bobot daunnya, tetapi pohon berdaun jarum sebaliknya juga melakukan fotosintesis aktif yang lebih lama terutama di daerah lintang tinggi. Meskipun demikian, variabilitas CO2 tidak berakibat langsung terhadap variabilitas fotosintesis karena adanya pengaruh variabilitas cahaya, lengas, dan unsur hara. Oleh karena itu, variabilitas CO2 ambien menyebabkan respons yang berbeda terhadap komponen-komponen ekosistem hutan.
Indonesia memiliki hutan sekitar 140 juta hektare. Namun sayang, sejak sering terjadi kebakaran hutan, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, beribu-ribu pohon musnah terbakar. Kebakaran hutan terbesar pernah terjadi pada 1982 seluas 3,6 juta hektare, lalu setelahnya hampir setiap tahunnya ratusan ribu hektare hutan terbakar. Untuk aspek ekologis, dengan musnahnya jutaan hektare hutan, akan mengganggu keseimbangan alam sekitarnya, baik secara lokal atau bahkan akan mendunia.
Secara lokal, keseimbangan alam kehidupan hewan-hewan penghuni hutan akan terganggu, sehingga tidak mengherankan bila ada harimau atau segerombolan gajah masuk ke wilayah perkampungan karena musnahnya habitat tempat mereka berkembang biak. Sedangkan dalam skala besar akan mengganggu keseimbangan biosfer yang sifatnya global.
Mengingat begitu pentingnya bagi keseimbangan ekosistem, tumbuhan perlu dijaga keberadaannya secara proporsional di muka Bumi ini. Apalagi dengan adanya kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer yang sudah di luar batas kenormalan. Semula kenaikan CO2 diakibatan oleh proses alam, namun sejak dimulainya revolusi industri pada permulaan abad ke-18, di mana gas karbon dioksida dilepaskan dalam jumlah yang sangat tinggi, jauh melebihi kemampuan tumbuhan hutan dan penyerapan oleh samudera, sebagai agen alam yang berperan sebagai pembersih atmosfer dari gas karbon dioksida, melalui penyerapan langsung maupun melalui pelarutan.
Sejak awal abad ke-20, kerusakan lingkungan akibat ulah umat manusia menjadi makin memuncak, dengan semakin tingginya kenaikan gas karbon dioksida yang didukung dengan tingginya tingkat kepadatan penduduk Bumi. Di samping itu, juga makin pesatnya usaha penebangan pohon-pohon hutan (penggundulan hutan) di kebanyakan negara berkembang, bahkan usaha penebangan hutan yang diikuti dengan pembakaran sisa-sisa penebangan pohon-pohon hutan menambah tinggi konsentrasi CO2 di atmosfer. Apabila karbon dioksida (CO2) terakumulasi maka akan terjadi penebalan atau peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Hal ini secara langsung mengakibatkan panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan atmosfer dan terperangkap di dalam Bumi sehingga panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula.
Keywords : Perusakan hutan, ladang fotosintesis berkurang, karbon dioksida (CO2) terakumulasi, pemanasan global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar